loader

Please Wait ...

Ali Imron Hamid
| Kamis, 18 Jun 2020

Putra Nababan Kenang Jadi Wartawan dan Ungkap Kegiatan di Senayan

"Anggota DPR Itu Banyak Tugas, Ada Juga Yang Bandel-bandel.."
Putra Nababan Kenang Jadi Wartawan dan Ungkap Kegiatan di Senayan Artikel Putra Nababan di Harian Rakyat Merdeka, Kamis 18 Juni 2020, halaman 1.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitulah perjalanan hidup Putra Nababan, anggota Komisi X DPR dari PDIP. Nasib menuntunnya mengikuti jejak karir sang ayah, Panda Nababan. Seorang wartawan kawakan yang di puncak karirnya beralih jadi politisi.

Sebelum jadi politisi Senayan, Putra memang lebih dikenal sebagai wartawan. Selama hampir 25 tahun, dia menapaki karir di dunia jurnalistik. Kiprahnya dimulai saat menjadi reporter di surat kabar Merdeka pada tahun 1995.

Enam tahun berselang, dia merintis karir sebagai jurnalis televisi. Di sini karirnya melesat. Beberapa kali, dia didapuk sebagai pembaca berita terbaik. Puncak karirnya dicapai pada 2012 saat dia menjadi pemimpin redaksi di Metro TV.

Pemilu 2019 lalu, Putra memulai karirnya di dunia politik. Melalui PDIP, dia mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari Dapil DKI Jakarta I. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Ia melenggang ke Senayan dengan meraih 101.769 suara.

Hasil yang mengesankan bagi politisi pendatang baru. Padahal di dapil ini, dia berhadapan dengan tokoh nasional seperti Imam Nahrawi yang saat itu jadi Menpora.

Kemarin siang, Putra berbincang via Instagram dengan Rakyat Merdeka. Acara dimoderatori Budi Rahman Hakim, Wartawan Senior Rakyat Merdeka. Tema yang diangkat, “Politisi Muda di Senayan, Ngapain aja?” Selama hampir satu jam, ayah tiga anak ini menceritakan pengalaman barunya sebagai anggota DPR.

Sesekali ia mengenang perjalanannya saat masih menjadi wartawan. Macam-macam ceritanya. Yang lucu soal perbedaan cara pandang antara wartawan dan anggota DPR. Dulu, kata dia, saat masih wartawan, ia sering menyuruh fotografer untuk memfoto ruang rapat paripurna yang kosong melompong. Sekarang saat jadi anggota DPR, ia sadar. “Tugas anggota DPR itu ternyata banyak,” kata Putra sambil tertawa.

Putra lalu membeberkan agendanya hari itu. Kata dia, ada empat pertemuan Zoom. Pagi rapat pagu anggaran dengan BNPB. Siangnya ada sidang legislasi. Rapat dengar pendapat RUU Tenaga Kerja. Jelang sore lanjut rapat Komisi lagi. Belum kalau ada tugas dari partai. “Pers tidak tahu soal ini,” kata Putra.

“Dulu kita dari luar lihat ke dalam. Sekarang kita dari dalam lihat keluar,” imbuhnya.

Di samping ngurus komisi, dia mengurus dapil. Urusan ini tidak bisa ditinggalkan. Dia bilang tidak ada hari kosong tanpa ngurusin dapil. Saking banyaknya kerjaan, kadang dia melakukan multiple Zoom. Maksudnya melakukan beberapa pertemuan sekaligus dalam satu waktu. “Untung ada Zoom. Kalau tak ada repot kita,” ujarnya.

Tapi memang, kata dia, tidak semua ritme kerja anggota DPR seperti itu. Parlemen terdiri dari macam orang latar belakang dan tabiat. “Yang bandel-bandel juga ada,” ungkapnya.

Soal bisa melenggang ke Senayan, Putra mengakui latar belakangnya sebagai wartawan cukup membantunya. Dengan bekal komunikasi politik, dia bisa mengerti apa yang mesti disam paikan kepada konstituen. Tapi, saat-saat kampanye di awal dia mengakui sempat kewalahan.

Dia mengakui tahapan paling berat adalah saat kampanye. Karir 25 tahun menjadi wartawan politik seperti tak banyak membantu. Dia sempat berseloroh menyesal tak pernah menugaskan wartawan meliput bagaimana seorang caleg bisa menang di dapilnya.

Dari pengalaman berkampanye kemarin, kata dia, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh media. Tapi harus bersentuhan dengan rakyat. Bisa memegang dan meluk rakyat. Masuk ke rumah mereka bersalaman. “Dari pertemuan dengan rakyat itu, probabilitas kita dipilih lebih besar. Itu yang dilakukan Emmanuel Macron (Presiden Prancis) dan Pak Jokowi,” ungkapnya.

Dari pengalaman itu juga dia tahu ada tiga jenis politisi. Pertama, politisi yang dikenal nasional dan di dapil. Biasanya para politisi senior yang kawakan. Kedua, tidak dikenal di nasional tapi di dapil sangat terkenal. Ketiga, dikenal nasional tapi tidak di dapil. Dari tiga politisi itu bisa dijelaskan kenapa politisi yang popularitasnya tinggi tapi tidak lolos.

Popularitas, aksepbilitas dan elektabilitas adalah tiga hal berbeda. “Saya baru tahu itu saat baru terjun ke politik. Ini yang tidak kita pelajari selama jadi wartawan,” ungkapnya.

Terakhir, enak jadi wartawan atau anggota DPR? Dia bilang menjadi anggota DPR itu harusnya orang-orang yang sudah selesai dengan profesinya. Karena pekerjaan di DPR adalah pengabdian seperti membuat undang-undang dan sebagainya.

Putra merasa puas masuk ke DPR setelah bisa bekerja sesuai passion-nya sebagai wartawan. Meniti karir di harian Merdeka sampai puncak karir sebagai redaktur pelaksana. Kemudian meniti karir di dunia televisi sampai jadi Pemred Metro TV dan memutuskan pensiun di usia 42.

QUOTE
quote
quote
quote
quote
quote