loader

Please Wait ...

Ali Imron Hamid
| Rabu, 11 Nov 2020

Putra Ajak Generasi Muda Berkarya, Landaskan Narasi Perjuangan

Putra Nababan mengajak generasi muda Indonesia menciptakan karya bagi masyarakat di ruang publik dengan berlandaskan narasi perjuangan dan semangat dari para pahlawan bangsa, sehingga terus melahirkan elan juang di tengah masyarakat.
Putra Ajak Generasi Muda Berkarya, Landaskan Narasi Perjuangan Anggota Komisi X DPR RI Putra Nababan. (Foto: gesuri.id/ Elva Nurrul Prastiwi)

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi X DPR RI Putra Nababan mengajak generasi muda Indonesia menciptakan karya bagi masyarakat di ruang publik dengan berlandaskan narasi perjuangan dan semangat dari para pahlawan Bangsa, sehingga terus melahirkan elan juang di tengah masyarakat.

"Inilah tantangan bagi generasi muda, kalau kita melihat benang merah bagaimana semangat pahlawan-pahlawan kita, dan kita tarik garisnya sampai kekinian saat ini kita harus membaca, melihat elan juang mereka," ujarnya dalam Webinar Sonora bersama Perpustakaan Nasional RI bertajuk Peran Pemuda dalam Meningkatkan Literasi di Indonesia, Selasa (10/11).

Itu pula, lanjut Putra, yang menjadi tantangan dari sisi konten dan karya generasi muda di ruang publik dimana akan mengaitkan mereka dengan kekayaan dan sejarah Indonesia, selain itu memberikan nilai tambah sebab dari sisi bisnis tentunya menguntungkan.

Untuk itu, Putra menekankan hal tersebut merupakan tantangan, tugas, dan tanggungjawab DPR RI serta pihak Perpustakaan Nasional RI terus menyediakan konten dan narasi kepada generasi muda agar tidak menjadi produk yang dangkal atau tidak berkelanjutan. 

"Kita tidak mau generasi muda menciptakan produk/karya yang dangkal, untuk itu benang merahnya terhadap perjalanan bangsa Indonesia dan kepahlawanan bangsa Indonesia harus mereka miliki, darimana? dari buku, dari perpusakaan nasional dan koleksinya. Itu yang harus ditekankan kepada mereka," ungkap Anggota DPR RI dapil DKI Jakarta Timur itu.

Namun, Putra juga mengajak pendekatan terhadap generasi muda saat ini bukan lagi dengan cara 'top down' melainkan 'bottom up'. 

Ia mencontohkan dengan menghadirkan duta perpusnas hingga tingkat madya, sehingga menjadi mentoring bahwa figur orang-orang tertentu sukses karena membaca, dan juga memberi contoh keberhasilan karena modal dasar membaca dan menulis.

Putra juga mengingatkan akan peran generasi muda sangat tinggi, terutama di era ruang publik yang begitu luas, dimana saat ini dengan Sistem Pembelajaran Jara Jauh (PJJ), Work From Home (WFH) membuat pertemuan fisik yang sangat minim. 

Ia mencatat berdasarkan data Kemendikbud sebanyak 60juta siswa didik belajar dari rumah sehingga membuat konten, buku, literasi yang dibaca ada di dunia digital, termasuk menyaksikan tayangan-tayangan video.

Putra mengingatkan jangan menganggap sebelah mata peran pemuda sebab sangat penting dimana mereka menghasilkan banyak produk atau karya di ruang publik yang berbasiskan literasi, dengan demikian bisa mendapatkan benang merah dan landasan dalam membuat karya dan juga produk yang sangat memberikan pengaruh ke masyarakat. 

Seperti, ujarnya, banyak influencer di medsos dan tiktok yang mengundang generasi muda membaca dan mempunyai banyak referensi. 

"Jadi memang peran generasi muda ini sangat besar, tapi memang akan lebih baik kalau kita tunjukkan dulu kepada generasi muda, jadi kalau hanya sekedar proses saja tidak tau arahnya justru itu pendekatan yang keliru. Kalau generasi muda saat ini pendekatannya jangan diajarkan prosesnya tapi ditunjukkan arahnya kemana, stimulus, dikasih titik ke arah mana, maka mereka secara kreatif mencari jalan sendiri," Putra membeberkan. 

"Dan meskipun bergadget ria jangan lupa mengembangkan softskill, kemampuan berkomunikasi, berinteraksi, memecahkan masalah, communication skill," pungkasnya menambahkan.

Sementara itu, Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando menyatakan di tangan milenial kedepan, generasi muda akan menentukan arah percaturan global. Saat ini setiap individu persaingannya adalah dunia, bukan nasional lagi.

Untuk itu, ia berharap ilmu pengetahuan dan kemampuan terkini dengan perkembangan teknologi digital harus mampu dikuasai agar masa depan dirinya dan bangsa tidak tertinggal di mata internasional.

“Namun kita jangan salah kaprah. Perpustakaan digital dengan konsep karya cetak dan rekam masih diperlukan, termasuk di seluruh dunia. Maka karya itu jangan dipertentangkan. Bila kita berjam-jam berselancar di media sosial, tanpa harapan yang jelas dan mengharapkan sesuatu pendirian dari internet, maka sama dengan berselancar di gelombang dengan pengetahuan yang sangat dangkal dengan ketidak penuh pastian,” ungkap Syarif.

Sumber: Gesuri.id

QUOTE
quote
quote
quote
quote
quote