loader

Please Wait ...

Elva Nurrul Prastiwi
| Jumat, 22 Jan 2021

Putra Minta Budaya Kuat dalam Keluarga Harus Ada di Komponen PJP

Putra Nababan mengatakan budaya yang dibentuk dalam keluarga yang kemudian mendarah daging dan melahirkan sebuah karakter yang kuat, spesifik dan unik, merupakan komponen yang penting yang harus ada dan mewarnai Peta Jalan Pendidikan (PJP) di Indonesia..
Putra Minta Budaya Kuat dalam Keluarga Harus Ada di Komponen PJP Anggota Komisi X DPR RI Putra Nababan. (Foto: gesuri.id/Elva Nurrul Prastiwi)

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi X DPR RI Putra Nababan mengatakan budaya yang dibentuk dalam keluarga yang kemudian mendarah daging dan melahirkan sebuah karakter yang kuat, spesifik dan unik, merupakan komponen yang penting yang harus ada dan mewarnai Peta Jalan Pendidikan (PJP) di Indonesia.

Hal itu, lanjut Putra, tentunya tak lepas dari hakikat dan esensi dari keberadaan sebuah keluarga yaitu membentuk karakter setiap anggota keluarganya, serta bertanggungjawab terhadap pembentukan karakter tersebut. 

"Nah, yang ingin saya sampaikan bahwa keluarga itu memang bertanggung jawab membentuk karakter," ungkap pria asli Batak itu dalam Rapat Dengar Pendapat Panja Peta Jalan Pendidikan, Kamis (21/1).

Lebih lanjut Putra mencontohkan dirinya sebagai anak Indonesia yang bersuku Batak, Putra memiliki 10 title yang melekat pada dirinya dan itu harus ia pahami.

"Ada 10 title yang saya emban dan saya harus tau situasi dan kondisinya seperti apa. Saya bisa dipanggil abang, bisa dipanggil lae, amang tua, amang uda, amang boru, tulang, apara, hela (artinya menantu oleh mertua saya), ito, bisa dipanggil adik, itu 10 minimal," beber Putra.

"Sebagai anak batak yang sekolah dan kuliah di luar negeri saya harus ngerti betul dan dipastikan orang tua saya tau. Kalau sampai saya tidak tau yang malu itu adalah orang tua saya," ia menambahkan.

Hal-hal seperti itulah yang menurut Putra sangat penting bagi seseoarang untuk mengerti dan mengenal jati dirinya dari keluarga dan budayanya.

"Nah yang hal-hal seperti ini memang sangat kita sayangkan kalau ini dikesampingkan. Tadi Pak Kyai betul mengatakan tentang pesantren, saya memang bukan muslim tapi saya punya teman banyak selama jadi wartawan 25 tahun, saya suka gocekan di kantornya GP Ansor dulu waktu liputan waktu itu masih dengan saifullah yusuf dan saya punya banyak teman wartawan yang santri," ungkapnya.

Menurut Putra, sebagai anak santri mereka bukan hanya mengerti tentang bahasa daerahnya, namun juga jago bahasa nasional yaitu Indonesia dan juga pintar bahasa Internasional yaitu Bahasa Inggris.

"Dan semakin banyak mereka tau semakin punya kemampuan menertawakan diri dan guyonannya itu tingkat tinggi. Artinya tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung," katanya.

Lebih lanjut Putra juga mendukung pernyataan Pak Kyai Agus Sunyoto (Budayawan/Tokoh NU) tentang konsep Peta Jalan Pendidikan harus mengintegrasikan unsur Pendidikan pesantren yang telah memiliki basis pendidikan khas keindonesiaan.

"Jangan-jangan pernyataan pak kyai ini memang tepat bagaimana kita memadupadankan. Jadi pak ketua agak salah kalau saya tidak mewarnai RDPU ini dengan budaya yang lain selain budaya jawa gitu ya, karena kamipun diajari yang namanya dalihan natolu dalam adat batak kami, sehingga itu menurut saya harus ada dan mewarnai di dalam peta jalan pendidikan," tandasnya.

Sumber: Gesuri.id

QUOTE
quote
quote
quote
quote
quote