loader

Please Wait ...

Ali Imron Hamid
| Jumat, 29 Jan 2021

Dewas BPJS Ketenagakerjaan, Putra Ingatkan Kasus di Kejagung

Putra Nababan mengajak Calon Dewas BPJS Ketenagakerjaan Agus Dwiyanto, sebagai sesama karyawan peserta BPJS Ketenagakerjaan untuk melihat kasus yang ada di Kejaksaan Agung (Kejagung).
Dewas BPJS Ketenagakerjaan, Putra Ingatkan Kasus di Kejagung Anggota Komisi X DPR RI Putra Nababan. (Foto: gesuri.id/Elva Nurrul Prastiwi)

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi X DPR RI, Putra Nababan mengungkapkan pengalamannya sebagai anggota Jamsostek, yang kini telah bermetamorfosa menjadi BPJS Ketenagakerjaan, selama puluhan tahun. 

Baginya, pemotongan gaji sebagai anggota Jamsostek selama puluhan tahun membuatnya 'mengelus dada'. 

Hal itu dikatakan Putra dalam Uji Kelayakan dan Kepatutan Calon Anggota Dewan Pengawas (Dewas) BPJS Ketenagakerjaan Agus Dwiyanto oleh Komisi IX DPR RI di Jakarta, Kamis (28/1). 

"Pemotongan gaji untuk Jamsostek itu, dengan harapan agar kami bisa memiliki tabungan di hari depan. Saya lihat, anda (Agus Dwiyanto) juga 15 tahun di Astra. Pasti merasakan gaji dipotong juga untuk Jamsostek," ujar Putra. 

Putra pun mengajak Agus, sebagai sesama karyawan peserta BPJS Ketenagakerjaan untuk melihat kasus yang ada di Kejaksaan Agung (Kejagung).

"Anda saat ini sedang bertarung untuk menduduki posisi puncak di BPJS Ketenagakerjaan, saya bertanya pada Anda. Ketika anda melihat kasus di Kejagung itu, apa perasaan anda? Nelongso? Atau punya tekad? Kalau punya tekad, tekadnya apa?" tanya Putra. 

Politisi PDI Perjuangan itu juga menyinggung para peserta informal BPJS Ketenagakerjaan. Dia mencontohkan, di daerah pemilihannya yakni Jakarta Timur, pekerja informal nya umumnya para pelaku usaha online (daring). 

Dan, sambung Putra, para pelaku usaha online itu paling terdampak oleh pandemi COVID-19. Dia pun mempertanyakan, bagaimana rencana Agus untuk membuat para pekerja sektor informal itu tetap menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

"Bagaimana rencana anda untuk mereka, dikala penghasilan mereka ngos-ngosan? Bagaimana cara anda untuk 'merayu' mereka membayar iuran? Tak cukup dibutuhkan Agent of change, tapi harus ada upaya yang lebih untuk mengajak mereka," ujar Putra. 

Putra juga meminta penggunaan Big Data harus digunakan oleh BPJS Ketenagakerjaan untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta.

Dia mengingatkan, bahwa Big Data harus menjadi instrumen dalam melakukan profiling terhadap para peserta. Sebab, para peserta itu beragam, seperti karyawan baru dan karyawan yang mau pensiun.

"Keinginan dan cita-cita mereka berbeda-beda, tingkat ekonomi nya juga beda-beda. Seharusnya Big Data ini bisa digunakan untuk sebesar-besarnya untuk keinginan para peserta berikut mimpi-mimpi mereka ketika pensiun," ujar Putra.

"Jadi Big Data itu bukan sekedar untuk kebutuhan konsolidasi data, tapi juga untuk melayani peserta," tambahnya.

Sumber: Gesuri.id

QUOTE
quote
quote
quote
quote
quote