Putra Kritisi Anggaran Kinerja, Dirut RRI: Optimalkan Tingkatkan Pelayanan
Anggota DPR Komisi VII Fraksi PDI Perjuangan Putra Nababan
Anggota Komisi VII DPR RI, Putra Nababan, melontarkan kritik keras terkait dengan kecilnya porsi anggaran penyiaran public sebesar Rp 15 miliar. Ia menilai anggaran tersebut sangat kecil dibandingkan dengan anggaran manajemen RRI yang jumbo sebesar Rp931 miliar.
Putra menyoroti ketimpangan ekstrem anggaran RRI yang mendekati Rp1 triliun. Dari jumlah tersebut, Putra mengkritisi anggaran sebesar Rp931 miliar dialokasikan untuk manajemen dan pegawai, sedangkan program penyiaran hanya Rp15 miliar.
“Yang ingin saya stressing adalah, kalau kita melihat dari anggaran yang dipaparkan oleh RRI, ini kita lihat tanggungan dari belanja pegawainya itu luar biasa besar. Rp931 miliar untuk manajemen, sementara untuk programnya Rp15 miliar,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama RRI, TVRI, dan ANTARA, di gedung DPR RI Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.
Menurut Putra, ketimpangan tersebut menunjukkan persoalan mendasar dalam orientasi pengelolaan anggaran lembaga penyiaran publik. Ia mempertanyakan fungsi RRI jika sebagian besar anggaran terserap untuk beban pegawai.
“Ini apa kerjaan RRI kita ini. Dan apa yang diharapkan, apakah memang kita menampung begitu banyak karyawan dan begitu banyak beban,” ujarnya.
Putra menilai pelayanan kepada masyarakat seharusnya menjadi prioritas utama lembaga penyiaran publik. Karena itu, ia meminta jajaran pimpinan RRI merenungkan kondisi tersebut secara serius.
“Kalau lihat dari postur anggarannya. Ini kita bayarin karyawan, bukan melayani publik,” ujarnya.
Menanggapi kritik tersebut, Direktur Utama LPP RRI Hendrasmo mengatakan postur anggaran tersebut merupakan alokasi yang telah ditetapkan Kementerian Keuangan. Namun, kondisi itu tidak mengurangi komitmen RRI dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Menurut Hendrasmo, kritik DPR menjadi masukan penting bagi RRI untuk terus berinovasi. Salah satunya dengan meningkatkan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) melalui berbagai pengembangan layanan.
“Ini sebenarnya adalah feedback bagi kami untuk terus melakukan inovasi guna mendongkrak PNBP. Namun kami juga berterima kasih atas apresiasi DPR terhadap transformasi digital RRI,” ujarnya.
Hendrasmo menjelaskan, transformasi digital yang dilakukan RRI terus menunjukkan perkembangan positif. Saat ini sebanyak 46 persen pendengar radio di Indonesia merupakan pendengar RRI.
Selain itu, Hendrasmo mengatakan jumlah pengunjung layanan streaming RRI telah mencapai lebih dari 55 juta. Sementara itu, pengguna aktif layanan streaming juga telah melampaui 20 juta pengunjung dan pengunjung portal rri.co.id juga terus meningkat.
"Komunitas digital yang dikelola RRI terus bertumbuh setiap tahun. Program pengembangan kompetensi pegawai juga dinilai berjalan cukup efektif," katanya.
Saat ini lebih dari 45 persen pegawai core business RRI telah mengikuti uji kompetensi. Menurut Hendrasmo, capaian tersebut menjadi bukti keseriusan RRI meningkatkan kualitas pelayanan.
“Pelayanan kami tetap optimal walaupun dalam keadaan anggaran terbatas. Indikator kinerja tata kelola RRI juga terus meningkat,” ujarnya.
Di akhir rapat tersebut, Putra menegaskan RRI, TVRI, dan ANTARA memikul harapan besar untuk berdiri di posisi negara, melampaui kepentingan cabang eksekutif, legislatif, maupun partai politik. Posisi negara, harus dimanifestasikan dalam bentuk pelayanan maksimal kepada rakyat, bukan terjebak dalam pemborosan birokrasi.





