loader

Please Wait ...

Ali Imron Hamid
| Jumat, 21 Jan 2022

Putra: PTM Terbatas Kampus di DKI Butuh Kesadaran Kolektif

"Kesadaran kolektif itu harus dibangun bersama antara dosen, mahasiswa, bagian-bagian lain agar selalu taat prokes saat berada di kampus."
Putra: PTM Terbatas Kampus di DKI Butuh Kesadaran Kolektif Anggota Komisi X DPR RI Putra Nababan saat memberikan pengarahan di hadapan 400 peserta zoom meeting yang dihadiri oleh para rektor, dosen-dosen, ketua yayasan seluruh perguruan tinggi negeri maupun swasta di Jakarta, Jumat (21/1). (Istimewa)

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi X DPR RI Putra Nababan mengingatkan bahwa pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas bagi perguruan tinggi di DKI Jakarta membutuhkan kesadaran kolektif bersama untuk selalu mematuhi dan menjalankan SOP Protokol Kesehatan secara ketat. Kesadaran kolektif itu harus inheren atau melekat dalam diri dosen dan mahasiswa saat melakukan PTM terbatas pada awal tahun ini. 

"Kesadaran kolektif itu harus dibangun bersama antara dosen, mahasiswa, bagian-bagian lain di kampus agar selalu taat Prokes saat berada di dalam kampus. Jadi hal itu tidak semata menjadi domain satgas Covid di kampus, melainkan merupakan kebiasaan baru di masa new normal saat ini," kata Putra saat memberikan pengarahan di hadapan 400 peserta zoom meeting yang dihadiri oleh para rektor, dosen-dosen, ketua yayasan seluruh perguruan tinggi negeri maupun swasta di Jakarta, Jumat (21/1).

Menurut Putra, pelaksanaan PTM terbatas bagi civitas akademik, bukanlah yanng baru pertama kali dilakukan. PTM terbatas sudah lebih dulu dilakukan di sekolah-sekolah jenjang pendidikan dasar dan menengah. "Tadinya saya berasumsi PTM terbatas dilakukan pertama kali oleh kampus-kampus. Tapi saya kaget bukan kepalang karena ternyata perguruan tinnggi paling terakhir menerapkan tatap muka terbatas," katanya. 

PTM terbatas, tambah Putra, harus dilakukan demi mencegah learning loss adik-adik mahasiswa yang kehilangan kesempatan dalam mengasah soft skill sebagai bekal ketika  akan terjun di dunia industri. "Sudah banyak mahasiswa menyampaikan aspirasi ke saya, kapan bisa kuliah di kampus? Kapan bisa bertemu dengan dosen dan teman-teman lainnya? Pertanyaan seperti itu banyak sekali saya dapatkan ketika bertemu dengan adik-adik mahasiswa di beberapa kampus di Jakarta Timur," kaktanya. 

Untuk itu, Putra mendorong agar kampus-kampus di DKI Jakarta bisa segera melaksanakan PTM terbatas dengan baik. Mulai dari persiapannya, pelaksanaannya hingga monitoring evaluasi dari PTM terbatas tersebut. "Saya paham ada 6000 mahasiswa di tiap kampus. Semua itu bisa diatur dengan baik. Tahapannya pasti ada. Skemanya juga pasti ada. Bahkan rekan-rekan di Perguruan Tinggi juga tentunya sudah memahami bagaimana prokes dijalankan saat PTM terbatas dilangsungkan," ujarnya.

Karena itu, tambah Putra, tidak perlu ragu lagi dalam memulai PTM terbatas. Mulailah melakukan PTM terbatas di kelas-kelas yang kecil. Untuk kelas yang besar bisa menerapkan system hybrid. "Itu sama sekali tidak menjadi masalah. Semua bisa diatur dengan baik dan sudah ada contoh kampus-kampus yang juga sukses dalam melaksanakan PTM terbatas," tandasnya 

Terkait dengan kebiasaan mahasiswa yang suka nongkrong seuai perkuliahan, Putra menegaskan, bahwa nongkrong itu memang bawaan mahasiswa. Namun jika kesadaran kolektif tadi terus dibangun, dosen-dosen dan tenaga akademik di kampus tidak bosan-bosannya memberikan himbauan kepada mahasiswa maka tentu mereka akan mengikutinya dari hati. "Mahasiswa ini sudah dewasa dan tentunya sudah bisa bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri. Apalagi mereka itu adalah role model yang harus bisa memberikan contoh kepada masyarakat," katanya. 

Dalam kesempatan tersebut, Putra juga minta kepada LLDIKTI Wilayah III untuk menyiapkan skema atau protokol PTM terbatas dengan baik termasuk saat adik-adik mahasiswa ingin kembali beraktivitas di organisasi kampus. "Segera saja dipersiapkan/ Sekiranya membutuhkan aturan atau tatacara prokes di kampus-kampus, siapkan saja dengan segera. Termasuk SOP ketika akan praktek di laboratorium. LLDIKTI tentu bisa menyiapkan hal tersebut dengan baik," katanya. 

Dosen dan tenaga pengajar, tambah Putra, juga harus membiasakan diri untuk berbicara dengan mengenakan masker dalam durasi yang lama. Atau bisa juga saat mengajar di depan kelas, maskernya dapat dibuka sepanjang tetap menjaga jarak dengan mahasiswa di kelas. "Sudah banyak kampus-kampus di luar LLDIKTI wilayah III yang sukses dalam menerapkan PTM terbatas. Jadi kesuksesan PTM terbatas di kampus lain bisa diamati, ditiru dan dimodifikasi tentu semua akan berjalan dengan lancar," tandasnya.

Sumber: Gesuri.id

QUOTE
quote
quote
quote
quote
quote